Wednesday, 13 December, 2017

Login Form



You are here : Home Free Jurnal Vol.05, No.1, Agustus 2000

Vol.05, No.1, Agustus 2000

Jurnal Volume 5 No 1

Anda bisa mengunduh file lengkap setelah Anda terdaftar sebagai anggota dan melakukan Login

DocumentsDate added

Order by : Name | Date | Hits [ Descendent ]
ANALISIS PERKEMBANGAN PARIWISATA
INDONESIA AWAL TAHUN 2000

RAMLANI LINA SINAULAN
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Trisakti
 
On the revenue side of the service account, tourism remained the largest non-oil/gas foreign exchange earner. During 1999, the net revenue from tourism slightly lower than the value in 1998. Although the foreign ex-change earning from tourism declined, the numbers of visitors coming to Indonesia increased. During January-April 2000, the numbers of visitors slightly increased compared with the previous year.
 
file icon Memahami Perilaku Wisatawanhot!Tooltip 03/12/2009 Hits: 107
MEMAHAMI PERILAKU WISATAWAN

YOHARMANSYAMSU
Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti
 
Sejalan dengan perkembangan jaman menuju era globalisasi, nampaknya perlu dilakukan persiapan dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan sebagai pemakai jasa pariwisata. Norma-norma pergaulan, etika dan etiket merupakan hal-hal yang utama dalam bertingkah laku terutama bagi mereka yang bergerak dalam industri pelayanan pariwisata. Selain itu agar dapat memberikan pelayanan terbaik maka seharusnyalah sebagai orang yang menyediakan jasa pariwisata haruslah memahami hal-hal sebagai berikut: antara lain motivasi wisatawan, proses belajar yang terjadi sebelum perjalanan dilaksanakan, persepsi wisatawan terhadap daerah yang akan dikunjungi, nilai dan sikap yang dimiliki wisatwan, dan pada akhirnya (puncaknya) memahami perilaku wisatawan itu sendiri. Oleh karena itu, pada tulisan ini dibahas mengenai bagaimana memahami perilaku wisatawan, dengan tujuan agar dapat memberikan pelayanan yang maksimal kepada seluruh wisatwan yang datang, Bagaimana proses mengenali dan memahami suatu DTW sehingga terbentuk suatu persepsi terhadap destinasi,yang menimbulkan sikap dan nilai yang membentuk pribadi dalam bertimgkah laku, yang tercermin pada saat menentukan dan melakukan perjalanan wisata.
 
PARIWISATA PEDESAAN DAN PEMBANGUNAN
PERTANIAN BERKELANJUTAN

KUSMAYADI
Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti
 
Sebagai negara kepulauan, Indonesia dihuni oleh sebagian besar penduduk yang tinggal di pedesaan, dengan pola hidup yang bergantung pada hasil-hasil pertanian.  Keadaan wilayan pedesaan sendiri mempunyai kekayaan sumber daya alam baik hayati dan non hayati maupun khasanah kebu-dayaan yang sangat berragam.
Pendekatan pembangunan pedesaan selama ini dapat diistilahkan sebagai membangun di desa dan bukan membangun desa,  sehingga pembangunan tersebut lebih bersifat eksploitasi sumber daya pedesaan untuk kepentin-gan orang kota.  Di samping itu, pembangunan yang dilakukan tidak men-cerminkan keterpaduan antar sector dan sub sector, sehingga hanya terfo-kus pada sub sector produksi pertanian saja.
Bercermin dari pengalaman negara-negara Barat, di mana pembangunan pertanian pedesaan dipadukan dengan pengambangunan pariwisata pede-saan telah memberikan dampak positif yang sangat luas baik dalam perlua-san kesempatan kerja dan peningkatan pasar produksi pertanian.  Oleh karena itu, pengembangan pertanian pedesaan bila dipadukan dengan pembangunan pariwisata pedesaan di Indonesia sangat berpeluang.
 
PELATIHAN BAGI MASYARAKAT UNTUK MENINGKATKAN PERAN SERTANYA
DALAM PEMBANGUNAN PARIWISATA PEDESAAN

SANTI PALUPI dan RAHMAT INGKADIJAYA
 
Dalam pembangunan pariwisata di pedesaan, peran serta masyarakat merupakan kunci utama untuk mencapai sukses.  Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan den-gan kepariwisataan sangat diperlukan.
Pelatihan yang sesuai bagi peningkatan keterampilan masyarakat adalah pelatihan yang sifatnya singkat dan terarah sesuai dengan kebutuhan la-pangan pekerjaan di local setempat.  Dalam hal ini CBT yang dimodifikasi merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan.
 
PEMIKIRAN KE ARAH PARIWISATA SEBAGAI DISIPLIN ILMU

OKA A.  YOETI
Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Jakarta
 
Sampai saat ini, pariwisata belum dapat diakui sebagai satu disiplin ilmu secara mandiri, sehingga penyelenggaraan pendidikan pariwisata untuk jalur akademik masih dititipkan pada rumpun-rumpun ilmu lain seperti Ekonomi, antropologi, planologi dan sebagainya.  Dampaknya adalah bahwa pendidikan pariwisata hanya sebagai bagian terkecil dari mata kuliah yang disajikan pada jurusan/program studi yang menjadi pa-yungnya.
Untuk itu, kalangan akademisi dan para peneliti  bidang kepariwisataan perlu meningkatkan penelitian dan pengembangan bidang ini agar dapat dikembangkan secara mandiri.
 
SIAPAKAH  PENDIRI PAKUAN  PAJAJARAN ?
 
[Salah satu diantara berbagai penelitian oleh Drs. Saleh Danasasmita (lahir Sumedang 1933, wafat hari Jumat tanggal 8 Agustus 1986 jam 04.30 di Bo-gor) yang tidak pernah diterbitkan, kini diedit dan diungkapkan kembali oleh Harro Salim Ir., M.Eng.Sc., CPEng., dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti]

 

STUDI PENGEMBANGAN OBYEK WISATA:
REOG PONOROGO

SOEDARMONO
 Kepala Program Diploma Tiga Usaha Perjalanan Wisata Universitas Sebelas Maret Surakarta
 
Adanya perubahan paradigma wisatawan dari pariwisata massal ke pari-wisata minat khusu yang cenderung meminati pariwisata budaya dan ling-kungan, medorong kita untuk dapat meng-eksiskan seni dan budaya yang kita miliki untuk dijadikan produk andalan pariwisata.
Seperti halnya Reog Ponorogo sebagai kesenian yang memiliki unsur  bu-daya yang mempunyai keterkaitan dengan ritual keagamaan.  Kesenian ini telah terkenal secara luas baik di kalangan masyarakat Indonesia maupun di kalangan wisatawan manca negera.  Namun sisi lain yang masih sedikit dikupas adalah bagaimana kesenian tersebut menjadi suatu atraksi yang menjadi produk andalan pariwisata.
 
TEKNIK PENGOLAHAN EMPEK-EMPEK PALEMBANG SECARA TRADISIONAL

DJOKO SUDIBYO
Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti
 
Pempek palembang yang dibuat secara tradisionan memberikan hasil lebih baik dari pada menggunakan peralatan seperti mixer.  Serat yang lebih kasar, dan tulang ikan yang terpotong dapat menurunkan kualitas hasil jadi pempek Palembang.
Bahan baku pempek Palembang, selain menggunakan ikan belida, da-pat juga menggunakan ikan-lain seperti tenggiri asalkan ikan tersebut memiliki daging yang tebal dan banyak.
 
THE ROLE OF TOURISM IN ADAPTIVE RE-USE AND DEVELOPMENT
OF  HISTORIC PUBLIC SPACES:
Yogyakarta Case Study

WIENDU NURYANTI
Yogyakarta Tourism Development Board
 
Yogyakarta, sebagai daerah Istimewa memiliki Budaya yang tidak dimiliki daerah-daerah lain di Indonesia, mulai dari karya seni sampai peninggalan purbakala.
Karena kekayaan budaya inilah, maka pembangunan kepariwisataan di Yogyakarta, perlu mempertimbangkan dengan tepat khasanah kebudayaan tersebut.
 

Random Image

jip-1322008.jpg
STP Trisakti