Wednesday, 13 December, 2017

Login Form



You are here : Home Free Jurnal Vol.04, No.3, Mei 2000

Vol.04, No.3, Mei 2000

Jurnal Volume 4 No 3

Anda bisa mengunduh file lengkap setelah Anda terdaftar sebagai anggota dan melakukan Login

DocumentsDate added

Order by : Name | Date | Hits [ Descendent ]
DAMPAK OTONOMI DAERAH BAGI PERKEMBANGAN
INDUSTRI PARIWISATA DKI JAKARTA

WITJAKSONO MUWARDI
Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta
 
Pelaksanaan Otonomi Daerah, di satu sisi merupakan suatu peluang yang sangat besar bagi pengembangan Pariwisata Daerah, namun di sisi lain, otonomi daerah juga merupakan tantangan yang harus dihadapi, terutama bagi daerah-daerah yang tidak memiliki sumber daya yang memadai bagi pembangaunan.
Sumber daya, baik itu sumber daya manusia maupun sumber daya alam dan sumber-sumber perutumbuhan ekonomi lainnya, merupakan faktor terpenting di dalam pembangunan daerah. Pola pembangunan pariwisata daerah Kasus DKI Jakarta dapat dijadikan sebagai bahan teladan untuk mengembangan pariwisata di daerah lain.
 
ECO-TOURISM:
A TOOL FOR SUSTAINABLE DEVELOPMENT

DAVID BARKIN
 
Ecotourism, to be successful, must promote sustainable development by establishing a durable productive base that allows local inhabitants and ecotourist service providers to enjoy rising standards of living. An ecotourist project must incorporate the social dimensions of productive organization and environmental conservation. Based on the experience of the overwintering reserves of the Monarch Butterfly in west-central Mexico, we suggest that unless ecotourism actively incorporates the local society into service planning and provision, and includes programs to meet the fundamental needs for income and employment for all people in the region, the special qualities of the site and its flora and fauna may be irreparably damaged.
 
PELUANG PENGEMBANGAN PELATIHAN KERJA BIDANG PARIWISATA
(STUDI KASUS DI DIY, BALI DAN NTB)

KUSMAYADI
 
Pembangunan ekonomi yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi saja, ternyata telah menciptakan struktur ekonomi yang rapuh, karena tidak ditunjang oleh kemampuan sumber daya manusia yang memadai.  
Aspek sumber daya manusia sebagai subjek di dalam pembangunan pariwisata khususnya, semestinya memiliki peranan besar.  Di samping itu, pemerataan kesempatan kerja dan peluang berusaha sektor pariwisata perlu diperluas sebagai penopang perekonomian.
Hasil studi di tiga propinsi (DIY, Bali dan NTB) menunjukkan bahwa peluang dan kesempatan kerja di sektor tersebut cukup memberikan harapan, sehingga peluang dan kesempatan untuk mengembangkan pelatihan kerja di bidang ini masih terbuka luas.
 
PENINGKATAN KINERJA PERGURUAN TINGGI MENGHADAPI
MILLENIUM III

HJ. MARYAM MIHARDJO
 
Dampak globalisasi terhadap pendidikan telah mendorong manusia untuk mencari ilmu dan pengetahuan semakin cepat.  Belajar tanpa dindirng (cyber learning) dan menuntut ilmu seumur hidup menjadi kecenderunngan yang kemungkinan akan terjadi.  Pada kondisi demikian, pendidikan di dalam kelas akan semakin ditinggalkan manakala kesadaran belajar, kesejahteraan dan pola fikir masyarakat meningkat.
Oleh karena itu, pengelolaan pendidikan-pun harus mengalami perubahan-perubahan, menyesuaikan dengan tuntutan situasi dan kondisi di masa yang akan datang. Tulisan ini sedikit mengulas tentang upaya meningkatkan kinerja di dalam pengelolaan pendidikan tinggi di masa yang akan datang.
 
PERANAN PENGANGGARAN MODAL UNTUK MENINGKATKAN
KEUNTUNGAN USAHA PABRIK TAHU SARI RASA
SUATU PENDEKATAN PEMBERDAYAAN EKONOMI USAHA KECIL
DI DAERAH TUJUAN WISATA KABUPATEN SUMEDANG

AGUS SETIADI
 
Pemberdayaan ekonomi masyarakat di daerah tujuan wisata dapat didekati dari berbagai sudut.  Selain peningkatan pengetahuan, wawasan, perubahan sikap dan keterampilan di bidang pariwisata, juga perlu ditingkatkan keterampilan di bidang penunjang pariwisata.
Sumedang, adalah kota kecil di Jawa Barat yang terkenal dengan industri tahunya.  Produksinya selain dipasarkan di kota Sumedang senidir, juga dipasarkan di kota Bandung dan Jakarta.  Suatu masalah klasik yang dihadapi para pengusaha adalah rendahnya kemampuan manajerial dan rendahnya penggunaan teknologi.
Untuk meningkatkan kemampuan di dalam pengembangan usahanya, maka berikut materi ini mencoba mengangkat masalah penganggaran tersebut.
 
PERSPEKTIF PEMBERDAYAAN SENI DAN BUDAYA DALAM KEPARIWISATAAN NASIONAL

YOHARMAN SYAMSU
 
Kekayaan Indonesia dengan nilai dan peninggalan budaya dari masyarakat sebelumnya belum memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat yang memikikinya.  Padahal dari ketiga wujud kebudayaan baik ‘ideas, activities, dan artifacts” dijumpai hampir di seluruh pelosok tanah air dan kelompok masyarakat.  Ini tidak lain adalah karena belum berperannya pariwisata dalam memberikan nilai tambah pada ketiga wujud kebudayaan tersebut.  Selain itu, masih tumpang tindihnya tugas dan kewenangan dari instansi yang mengangani budaya ini.  Hal lain adalah belum difahaminya visi dan misi pengembangan kepariwisataan itu sendiri oleh berbagai instansi terkait dan juga masyarakat.  Ini mutlak dimiliki dan dipahami karena pembangunan kepariwisataaan adalah lintas sektoral dan lintas departemental.   Tulisan ini mencoba menyajikan sekilas mengenai wujud budaya dan visi, misi pembangunan pariwisata Indonesia serta lingkup kegiatan yang dapat memberdayakan seni dan budaya.
 
PERSPEKTIF PENGEMBANGAN PARIWISATA DALAM ANTISIPASI
PELAKSANAAN OTONOMI

UJANG SUDIRMAN
Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah
Departemen dalam Negeri
 
Undang-undang Otonomi Daerah yang akan diberlakukan Mei tahun 2000, memberikan peluang sekaligus tantangan besar bagi pengembangan pariwisata daerah.  Dikatakan sebagai peluang karena potensi pariwisata daerah dapat dikembangkan seluas-luasnya oleh daerah.  Sedangkan tantangan yang menghadang adalah pemahaman sumber daya manusia terhadap pengembangan pariwisata masih belum merata, baik di kalangan birokrat maupun masyarakat itu sendiri.
 

Random Image

jip-1122008.jpg
STP Trisakti